Berapa Banyak Potensi Anak Muda Indonesia yang Hilang Hanya Karena Mereka Harus Bertahan Hidup?
Berapa banyak potensi anak muda Indonesia yang terkubur karena tuntutan ekonomi? Sebuah refleksi tentang Gen Z, pendidikan, meritokrasi, dan kesempatan belajar.
Koleksi Pribadi
Tentang Gen Z, ketimpangan kesempatan, mimpi yang terkubur, dan masa depan bangsa yang seharusnya bisa kita bangun bersama.
Sebuah Pemandangan di Dapur Mie Gacoan
Ada satu pemandangan sederhana yang belakangan ini terus mengganggu pikiran saya.
Saya melihat sebuah dapur Mie Gacoan yang sedang sibuk. Pesanan datang silih berganti. Orang-orang bergerak cepat. Ada yang memasak mi, menyiapkan bahan, membungkus pesanan, membersihkan meja, mengepel lantai, dan melayani pelanggan. Semuanya terlihat memiliki tugas masing-masing. Tidak banyak waktu untuk berhenti. Satu pekerjaan selesai, pekerjaan berikutnya sudah menunggu.
Dari apa yang terlihat, banyak di antara mereka adalah anak muda.
Mungkin usia mereka tidak jauh berbeda dengan siswa-siswa yang saya temui setiap hari di sekolah. Mereka berada pada fase kehidupan ketika seseorang seharusnya memiliki banyak kesempatan untuk mengeksplorasi dunia, mengenali minat, mempelajari sesuatu yang baru, dan mulai membayangkan akan menjadi siapa dirinya beberapa tahun mendatang.
Namun, malam itu saya tidak hanya melihat orang-orang yang sedang bekerja.
Saya mulai membayangkan kehidupan mereka di luar dapur tersebut.
Bagaimana jika di antara mereka ada seseorang yang sejak kecil tertarik pada komputer? Ada yang ingin menjadi web developer, tetapi tidak pernah memiliki laptop yang cukup memadai untuk belajar. Ada yang tertarik pada elektronika dan Internet of Things (IoT), tetapi tidak memiliki akses ke perangkat dan laboratorium untuk bereksperimen. Ada yang bercita-cita kuliah di Institut Teknologi Bandung, bahkan Massachusetts Institute of Technology, tetapi tidak pernah berani menyampaikan keinginannya kepada orang tua karena memahami kondisi ekonomi keluarga.
💬 Komentar & Diskusi
Bagaimana jika di antara mereka ada seseorang yang sebenarnya memiliki kemampuan luar biasa, tetapi sekarang harus bekerja karena keluarganya membutuhkan penghasilan?
Saya tidak tahu apakah orang-orang yang saya bayangkan itu benar-benar ada di dapur yang saya lihat. Saya tidak memiliki data untuk menyimpulkan demikian. Namun, saya tahu bahwa kemungkinan seperti itu nyata di tengah masyarakat kita.
Sebab tidak semua anak muda memiliki kebebasan yang sama untuk menentukan bagaimana mereka akan menggunakan masa mudanya.
Ada yang bisa menghabiskan waktu untuk belajar, bereksperimen, membangun proyek, dan mengejar pendidikan tinggi. Ada pula yang sejak usia muda harus memikirkan bagaimana membantu orang tua, membiayai sekolah adik, membayar kebutuhan rumah tangga, atau sekadar memastikan bahwa besok masih ada uang untuk makan.
Mereka sama-sama memiliki masa depan. Namun, titik awal dan pilihan yang tersedia bagi mereka bisa sangat berbeda.
Dan sejak melihat pemandangan itu, saya terus memikirkan satu pertanyaan:
Berapa banyak potensi anak muda Indonesia yang tidak pernah berkembang bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena mereka tidak memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuannya?
Kita Terlalu Mudah Menyebut Gen Z Kurang Tangguh
Saya cukup sering mendengar perdebatan tentang generasi muda. Gen Z dianggap kurang tahan banting, terlalu sensitif, tidak betah bekerja, mudah menyerah, atau memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap kehidupan.
Sebagian kritik mungkin lahir dari pengalaman nyata. Setiap generasi tentu memiliki individu yang rajin, malas, tangguh, ceroboh, bertanggung jawab, atau tidak bertanggung jawab. Tidak ada generasi yang seluruh anggotanya memiliki karakter seragam.
Bias penilaian masyarakat antara generasi tua dan muda
Namun, saya merasa ada sesuatu yang kurang adil ketika ketangguhan generasi muda dinilai hanya dengan membandingkannya terhadap pengalaman generasi sebelumnya.
Kita sering mendengar kalimat seperti, "Dulu saya juga susah. Saya bekerja keras, tidak banyak mengeluh, dan akhirnya berhasil. Mengapa anak sekarang tidak bisa melakukan hal yang sama?"
Pengalaman tersebut tentu layak dihargai. Banyak orang tua dari generasi sebelumnya telah melewati masa-masa sulit dan bekerja keras untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
Saya sendiri sangat menghargai perjuangan orang tua saya.
Tetapi pengalaman seseorang berhasil melewati kesulitan tidak otomatis membuktikan bahwa semua orang yang menghadapi kesulitan serupa memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil.
Kondisi ekonomi berubah. Biaya pendidikan, struktur pasar kerja, perkembangan teknologi, persaingan, dan kebutuhan keterampilan juga berubah. Bahkan di antara anak muda yang hidup pada masa yang sama, kesempatan mereka bisa sangat berbeda bergantung pada kondisi keluarga dan lingkungan tempat mereka tumbuh.
Karena itu, menurut saya, kita perlu lebih berhati-hati ketika menyebut generasi muda kurang tangguh.
Coba perhatikan kembali para pekerja di dapur tadi.
Mereka menghadapi tekanan operasional, harus bergerak cepat, menjaga kualitas pekerjaan, bekerja sama, mengikuti prosedur, dan memenuhi tuntutan pelanggan. Saya tidak tahu bagaimana kondisi kerja mereka secara terperinci, tetapi pekerjaan yang terlihat itu sendiri sudah menunjukkan bahwa kerja keras tidak hanya ditemukan di kantor, ruang rapat, atau laboratorium teknologi.
Ketangguhan juga ada pada seseorang yang berdiri berjam-jam untuk mencari nafkah. Ada pada pekerja yang pulang setelah menyelesaikan sifnya, kemudian kembali bekerja esok hari karena keluarganya membutuhkan penghasilan.
Lalu, apakah orang-orang seperti itu pantas disebut kurang tangguh hanya karena mereka tidak sedang membangun startup, belajar di universitas ternama, atau mengembangkan teknologi terbaru?
Tentu tidak.
Menurut saya, kita perlu membedakan dua hal: kemampuan seseorang untuk bertahan menghadapi kesulitan dan kesempatan yang dimilikinya untuk keluar dari kesulitan tersebut.
Keduanya bukan hal yang sama.
Kita tidak boleh menjadikan kemampuan seseorang bertahan dalam keterbatasan sebagai alasan untuk membiarkannya terus hidup dalam keterbatasan.
Mengajarkan ketangguhan itu penting. Namun, menciptakan kesempatan agar ketangguhan tersebut dapat membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih baik juga sama pentingnya.
Ketika Masa Muda Habis untuk Bertahan Hidup
Ada satu hal yang menurut saya jarang dibicarakan secara serius ketika kita membahas anak muda dan dunia kerja: waktu dan energi manusia tidak terbatas.
Seseorang mungkin memiliki keinginan kuat untuk belajar. Ia ingin menguasai bahasa Inggris, mempelajari pemrograman, memahami kecerdasan buatan, membuat aplikasi, atau membangun bisnis sendiri.
Tetapi keinginan itu harus berhadapan dengan kenyataan.
Ia harus bekerja. Ia perlu mendapatkan penghasilan. Ia memiliki tanggung jawab terhadap keluarga. Setelah menjalani pekerjaan yang menguras tenaga, ia mungkin masih harus mengurus kebutuhan rumah tangga atau memikirkan bagaimana memenuhi pengeluaran bulan berikutnya.
Secara teori, ia bisa belajar setelah bekerja.
Namun, kehidupan manusia tidak sesederhana jadwal dalam kalender.
Belajar membutuhkan konsentrasi. Bereksperimen membutuhkan waktu. Membangun keterampilan membutuhkan latihan berulang. Membuat sesuatu yang baru membutuhkan kesempatan untuk gagal, memperbaiki kesalahan, dan mencoba kembali.
Ketika sebagian besar waktu dan energi seseorang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, ruang untuk melakukan semua itu bisa menjadi sangat terbatas.
Di sinilah saya melihat sebuah paradoks.
Kita meminta anak muda terus meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing di dunia kerja. Kita menyuruh mereka belajar teknologi baru, mengembangkan keterampilan, memperluas jaringan, dan meningkatkan produktivitas.
Namun, sebagian dari mereka justru menghadapi kondisi ekonomi yang membuat proses belajar semakin sulit dilakukan.
Mereka diminta berlari lebih cepat, sementara sebagian energi mereka sudah habis digunakan untuk memastikan bahwa mereka bisa terus berlari esok hari.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua orang yang bekerja keras pasti tidak memiliki kesempatan belajar. Banyak pekerja yang berhasil meningkatkan keterampilannya sambil bekerja. Banyak pula orang yang memanfaatkan waktu luang dengan sangat baik untuk membangun masa depan.
Tetapi kita tidak bisa menjadikan kisah keberhasilan sebagian orang sebagai bukti bahwa semua orang memiliki akses terhadap kesempatan yang sama.
Kita sering mengukur kemauan seseorang untuk berkembang tanpa cukup memperhitungkan apakah ia memiliki waktu, energi, dan sumber daya untuk melakukannya.
Mungkin persoalannya bukan semata-mata apakah anak muda mau belajar.
Mungkin kita juga perlu bertanya apakah kehidupan yang mereka jalani masih menyediakan ruang untuk belajar.
Saya Pernah Berada di Posisi Itu
Pemikiran ini bukan muncul hanya karena saya melihat orang lain.
Ada bagian dari pengalaman hidup saya sendiri yang membuat saya memahami bagaimana keterbatasan ekonomi dapat memengaruhi keputusan seseorang.
Dulu, saya tidak berani meminta orang tua membiayai saya untuk kuliah karena saya memahami kondisi ekonomi keluarga. Saya tahu bahwa melanjutkan pendidikan membutuhkan biaya, dan saya tidak ingin menambah beban orang tua saya.
Saya tidak menceritakan ini untuk menyalahkan mereka. Sama sekali tidak.
Saya bangga kepada orang tua saya. Bagi saya, mereka adalah pahlawan yang telah berjuang dengan kemampuan dan keadaan yang mereka miliki.
Keputusan yang saya ambil pada masa itu merupakan bagian dari perjalanan hidup saya. Saya bersyukur atas apa yang telah saya lalui, atas kesempatan yang datang kemudian, dan atas berbagai hal yang masih bisa saya pelajari sampai hari ini.
Sekarang, sebagai seorang guru, saya justru memiliki kesempatan untuk mempelajari banyak hal baru. Saya belajar tentang pengembangan software, membangun aplikasi, mengeksplorasi teknologi, dan memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan maupun proses belajar saya.
Perkembangan teknologi membuka pintu yang sebelumnya mungkin terasa jauh lebih sulit dijangkau.
Dengan akses terhadap sumber belajar dan perangkat yang tepat, seseorang bisa mulai memahami pemrograman, membangun proyek digital, atau mengembangkan ide tanpa harus selalu menunggu kesempatan formal datang dari institusi pendidikan.
Tentu saja, AI bukan solusi untuk semua persoalan. Kita tetap membutuhkan fondasi pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, latihan, akses perangkat, dan kesempatan menerapkan apa yang dipelajari. Tetapi teknologi ini telah memperluas kemungkinan belajar bagi banyak orang.
Saya merasakan sendiri betapa berharganya kesempatan untuk terus belajar.
Dan justru karena itu, saya sering membayangkan bagaimana jadinya jika kesempatan seperti ini tersedia lebih awal bagi anak-anak muda yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Bagaimana jika mereka bisa menemukan minatnya sejak usia sekolah? Bagaimana jika mereka memiliki akses ke komputer, internet, mentor, dan lingkungan yang mendukung? Bagaimana jika mereka bisa belajar tanpa harus selalu dihantui pertanyaan apakah biaya hidup keluarganya akan terpenuhi?
Saya tidak menganggap perjalanan hidup saya sebagai sesuatu yang gagal hanya karena tidak berjalan sesuai rencana awal. Saya juga tidak berpikir bahwa setiap orang harus kuliah untuk memiliki kehidupan yang baik.
Namun, saya menyadari bahwa kesempatan untuk belajar dapat mengubah cara seseorang memandang kemungkinan dalam hidupnya.
Dan saya ingin lebih banyak anak muda memiliki kesempatan itu.
Bagaimana Jika Mereka Tidak Perlu Mengorbankan Mimpi demi Membantu Keluarga?
Coba bayangkan seorang anak muda yang memiliki ketertarikan pada teknologi.
Ia ingin menjadi web developer. Ia suka membangun aplikasi. Ia ingin memahami bagaimana perangkat keras dan perangkat lunak bekerja bersama. Mungkin ia ingin menciptakan produk digital yang dapat digunakan oleh banyak orang.
Namun, keluarganya memiliki keterbatasan ekonomi.
Ia mungkin harus segera bekerja setelah lulus sekolah. Penghasilannya digunakan untuk membantu orang tua dan membiayai kebutuhan adiknya. Ia tidak memiliki banyak waktu untuk mengikuti pelatihan. Ia juga tidak bisa dengan mudah mengambil keputusan untuk belajar penuh waktu karena ada kebutuhan keluarga yang tidak bisa ditunda.
Apakah ia tidak memiliki ambisi?
Apakah ia kurang disiplin?
Apakah ia tidak cukup tangguh?
Kita tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu hanya dengan melihat pekerjaan yang sekarang ia lakukan.
Bisa jadi ia telah mengambil keputusan yang sangat bertanggung jawab berdasarkan kondisi yang dihadapinya. Ia memilih bekerja bukan karena tidak memiliki mimpi, melainkan karena ada kebutuhan yang harus dipenuhi hari ini.
Dan menurut saya, kita perlu menghormati keputusan tersebut.
Membantu orang tua bukanlah kegagalan. Bekerja setelah lulus sekolah bukanlah kegagalan. Tidak kuliah di universitas ternama bukan berarti seseorang kehilangan nilai dirinya.
Yang patut kita pertanyakan adalah mengapa pilihan-pilihan tersebut kadang terasa begitu mutlak, seolah-olah seseorang harus mengubur semua kemungkinan lain hanya karena keluarganya sedang membutuhkan penghasilan.
Bagaimana jika ada sistem bantuan yang membuat anak muda itu bisa belajar sambil bekerja dengan lebih layak?
Bagaimana jika ia memperoleh beasiswa, perangkat, akses pelatihan, atau dukungan biaya hidup yang memadai?
Bagaimana jika ia dapat mengikuti program pengembangan keterampilan tanpa harus mempertaruhkan kemampuan keluarganya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Ia mungkin tetap memilih bekerja di restoran. Ia mungkin menemukan bahwa bidang F&B memang merupakan minatnya. Ia bahkan mungkin kelak menjadi pengelola restoran atau pengusaha kuliner yang sukses.
Itu semua adalah pilihan yang sah.
Tetapi mungkin juga ia menemukan jalan menuju profesi lain yang selama ini hanya berani ia bayangkan.
Yang saya inginkan bukan agar setiap anak muda meninggalkan pekerjaannya demi mengejar mimpi besar. Saya ingin mereka memiliki kesempatan untuk menentukan masa depannya tanpa harus selalu dibatasi oleh keadaan ekonomi keluarganya.
Bagi saya, perbedaan itu sangat penting.
Dari Dapur Restoran ke Laboratorium Teknologi
Sesekali, saya membayangkan sebuah dunia yang mungkin terdengar utopis, tetapi layak menjadi arah yang kita perjuangkan.
Bayangkan ada seorang anak muda yang hari ini bekerja di dapur restoran untuk membantu keluarganya. Ia memiliki ketertarikan pada teknologi, tetapi belum pernah mendapatkan kesempatan belajar secara memadai.
Kemudian, ia memperoleh akses terhadap program pengembangan keterampilan yang benar-benar berkualitas.
Siswa SMK Al Kaaffah Kepanjen sedang belajar coding
Ia mendapatkan perangkat yang bisa digunakan untuk belajar. Ia memiliki mentor yang membantunya memahami dasar-dasar pemrograman. Ia memperoleh kesempatan mengerjakan proyek nyata dan menunjukkan kemampuannya.
Ketika ia membutuhkan waktu untuk belajar lebih intensif, ada dukungan yang memungkinkan dirinya mengambil kesempatan tersebut tanpa membuat kebutuhan dasar keluarganya terbengkalai.
Beberapa tahun kemudian, ia mungkin bekerja sebagai pengembang software. Bisa jadi ia menjadi teknisi perangkat keras. Mungkin ia membangun bisnis sendiri atau menciptakan produk yang membantu menyelesaikan persoalan di lingkungannya.
Tentu, tidak semua peserta program akan mencapai hasil seperti itu. Ada yang mungkin menemukan minat berbeda. Ada yang berhenti di tengah jalan. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama.
Namun, setidaknya mereka memperoleh kesempatan untuk mencoba.
Sekarang, perluas bayangan tersebut.
Bagaimana jika kesempatan itu tidak hanya diberikan kepada satu orang, tetapi kepada ribuan, bahkan jutaan anak muda dari berbagai latar belakang?
Bagaimana jika seorang anak dari keluarga petani di desa memiliki kesempatan mengembangkan teknologi pertanian? Bagaimana jika siswa SMK dari keluarga sederhana bisa membangun perangkat IoT untuk membantu pengelolaan air? Bagaimana jika seseorang yang tidak memiliki koneksi ke industri teknologi memperoleh kesempatan untuk mengembangkan software melalui program pendampingan yang berkualitas?
Kita tidak tahu siapa yang akan menghasilkan inovasi besar. Kita tidak tahu ide mana yang akan berkembang menjadi bisnis yang menciptakan lapangan kerja. Kita tidak tahu anak mana yang kelak menjadi peneliti, insinyur, pengusaha, atau pemimpin yang memberikan kontribusi besar bagi masyarakat.
Justru karena kita tidak tahu, kesempatan perlu dibuka seluas mungkin.
Kita tidak bisa mengharapkan inovasi hanya muncul dari kelompok yang sejak awal memiliki akses terhadap pendidikan terbaik, perangkat paling memadai, atau jaringan paling luas.
Mungkin ada banyak gagasan hebat yang tidak pernah kita temukan karena orang yang memilikinya tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengembangkannya.
Dan kehilangan seperti itu sulit diukur, sebab kita tidak pernah melihat sesuatu yang tidak sempat terwujud.
Bagaimana Negara Menentukan Prioritas Investasi bagi Manusia?
Pada titik ini, pemikiran saya bergerak dari persoalan individu menuju pertanyaan yang lebih besar tentang arah pembangunan.
Saya sering bertanya-tanya bagaimana jika sebagian sumber daya yang digunakan untuk berbagai program pengembangan kapasitas manusia juga diarahkan secara serius untuk membuka kesempatan bagi anak muda yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Misalnya, bagaimana jika lebih banyak dukungan diberikan kepada beasiswa pendidikan, pengembangan keterampilan teknologi, riset mahasiswa, laboratorium vokasi, inkubasi bisnis, dan pendanaan bagi anak muda yang ingin membangun produk atau usaha?
Saya tidak mengatakan bahwa semua anggaran harus dialihkan ke bidang teknologi. Kita membutuhkan banyak jenis keahlian. Koperasi, pertanian, pendidikan, kesehatan, manufaktur, perdagangan, dan berbagai sektor lain sama-sama memiliki peran penting dalam perekonomian.
Anggaran di berbagai kementrian tahun 2026 - sumber : indonesiabaik.id
Pelatihan manajer koperasi, misalnya, bisa memiliki manfaat nyata jika dirancang dengan baik, dilaksanakan secara efisien, dan menghasilkan peningkatan kompetensi yang dapat dibuktikan.
Persoalannya bukan memilih antara mendukung koperasi atau mendukung anak muda yang ingin mengembangkan teknologi.
Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan bahwa setiap investasi publik benar-benar memberikan manfaat yang sepadan, menjangkau pihak yang membutuhkan, dan memperluas kapasitas masyarakat dalam jangka panjang.
Ketika kita membelanjakan uang publik, kita tidak hanya memilih program yang akan dibiayai. Kita juga menentukan kesempatan mana yang akan diperluas dan kesempatan mana yang mungkin tidak memperoleh sumber daya yang cukup.
Karena itu, saya ingin melihat evaluasi yang serius terhadap program pengembangan sumber daya manusia: siapa yang memperoleh manfaat, kompetensi apa yang benar-benar meningkat, apa hasilnya setelah program selesai, dan apakah manfaatnya bertahan dalam jangka panjang.
Pada saat yang sama, saya ingin melihat lebih banyak investasi yang secara khusus membantu anak muda dari keluarga berpenghasilan rendah mengembangkan potensinya.
Bukan sekadar memberikan pelatihan singkat lalu menganggap tugas selesai. Bukan sekadar membagikan sertifikat. Bukan pula sekadar mengukur keberhasilan melalui jumlah peserta.
Kita membutuhkan program yang memberikan akses nyata terhadap pendidikan, perangkat, mentor, pengalaman kerja, riset, pendanaan, dan kesempatan mengembangkan produk.
Kita perlu berani menguji program-program tersebut, membandingkan hasilnya, memperbaiki kekurangannya, dan memperluas program yang terbukti efektif.
Sebab investasi pada manusia tidak cukup dinilai dari berapa banyak uang yang telah dibelanjakan.
Kita juga harus melihat berapa banyak kemampuan yang berhasil dikembangkan, berapa banyak kesempatan yang terbuka, dan berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik.
Meritokrasi Tidak Dimulai Ketika Seseorang Melamar Pekerjaan
Ada satu gagasan yang semakin menarik perhatian saya: meritokrasi.
Saya membayangkan Indonesia yang memberikan tanggung jawab berdasarkan kompetensi, integritas, dan kemampuan yang relevan. Saya membayangkan lingkungan kerja yang tidak menjadikan koneksi sebagai pengganti keahlian. Saya membayangkan institusi yang memberikan kesempatan berdasarkan kriteria yang jelas, bukan semata-mata latar belakang keluarga atau kedekatan personal.
Namun, semakin saya memikirkannya, semakin saya menyadari bahwa meritokrasi tidak bisa dibangun hanya pada saat seseorang melamar pekerjaan atau bersaing mendapatkan posisi tertentu.
Fondasinya dibangun jauh lebih awal.
Bayangkan dua anak yang sama-sama memiliki ketertarikan dan potensi di bidang teknologi.
Anak pertama tumbuh dalam keluarga yang mampu menyediakan laptop, akses internet, kursus tambahan, pendidikan berkualitas, dan kesempatan mengikuti berbagai kompetisi.
Anak kedua tumbuh dalam keluarga yang harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Ia mungkin memiliki ketertarikan yang sama, tetapi tidak memiliki perangkat, akses belajar, atau kesempatan untuk mencoba berbagai hal.
Ketika keduanya berusia 25 tahun, anak pertama mungkin memiliki portofolio, pengalaman proyek, sertifikat, dan jaringan profesional. Anak kedua mungkin baru mulai membangun keterampilan yang sama setelah bertahun-tahun bekerja untuk membantu keluarganya.
Jika kita hanya membandingkan pencapaian mereka pada usia 25 tahun, kita mungkin menyimpulkan bahwa anak pertama lebih kompeten.
Bisa jadi memang demikian dalam hal-hal tertentu. Pengalaman dan keterampilannya mungkin lebih matang.
Namun, apakah kita pernah bertanya seberapa besar perbedaan kesempatan yang membentuk perjalanan mereka?
Meritokrasi yang sehat tidak berarti semua orang harus memperoleh hasil yang sama. Usaha, keputusan, kemampuan, dan tanggung jawab individu tetap memiliki peran besar.
Tetapi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan seharusnya tidak terlalu ditentukan oleh keadaan ekonomi ketika seseorang dilahirkan.
Jika kita ingin memilih orang berdasarkan kompetensinya, kita juga harus membangun sistem yang memungkinkan kompetensi itu tumbuh dari berbagai latar belakang.
Artinya, kita perlu menyediakan pendidikan yang berkualitas, dukungan bagi mereka yang mengalami keterbatasan ekonomi, akses terhadap teknologi, serta kesempatan untuk menunjukkan kemampuan melalui karya dan pengalaman nyata.
Kita juga perlu membuka jalur alternatif. Seseorang yang tidak memiliki gelar dari universitas ternama seharusnya tetap bisa menunjukkan kemampuannya melalui portofolio, pengalaman, sertifikasi yang relevan, dan hasil kerja.
Di sisi lain, meritokrasi bukan berarti semua jabatan harus diserahkan kepada orang dengan kecerdasan akademik tertinggi. Kepemimpinan juga membutuhkan integritas, empati, kemampuan mengambil keputusan, dan tanggung jawab terhadap orang lain.
Dalam pelayanan publik, misalnya, kompetensi harus berjalan bersama akuntabilitas, transparansi, dan mekanisme pengawasan.
Bagi saya, meritokrasi bukan sekadar mencari orang terbaik dari kumpulan kandidat yang tersedia.
Meritokrasi juga berarti memperluas kesempatan agar orang-orang yang berpotensi, dari mana pun mereka berasal, bisa mengembangkan kemampuan dan membuktikan apa yang mampu mereka lakukan.
Bagaimana Jika Indonesia Kehilangan Calon Inovator Tanpa Pernah Mengetahuinya?
Ketika membicarakan masa depan bangsa, kita sering berfokus pada orang-orang yang berhasil.
Kita membicarakan pendiri startup yang sukses, ilmuwan yang menghasilkan penemuan, insinyur yang menciptakan teknologi baru, atau pengusaha yang membangun perusahaan besar.
Kisah-kisah tersebut penting. Kita membutuhkan contoh, inspirasi, dan orang-orang yang mampu menunjukkan bahwa sesuatu yang besar bisa diwujudkan.
Tetapi saya juga tertarik memikirkan orang-orang yang tidak pernah sampai ke sana.
Bukan karena mereka gagal setelah mencoba, melainkan karena mereka tidak pernah memperoleh kesempatan yang cukup untuk mencoba sejak awal.
Mungkin ada calon insinyur yang tidak pernah masuk ke laboratorium karena tidak mampu membiayai pendidikannya. Mungkin ada calon pengembang software yang tidak pernah menyelesaikan proyek pertamanya karena harus bekerja sepanjang hari. Mungkin ada calon pengusaha yang memiliki ide bagus, tetapi tidak mempunyai akses terhadap mentor, modal awal, atau jaringan yang dibutuhkan untuk menguji idenya.
Kita tidak bisa mengetahui jumlah orang yang mengalami keadaan seperti itu. Kita juga tidak bisa memastikan bahwa mereka semua akan menjadi inovator besar jika memperoleh bantuan.
Namun, ada perbedaan antara tidak berhasil setelah memperoleh kesempatan dan tidak pernah memperoleh kesempatan sama sekali.
Kegagalan setelah mencoba masih bisa menghasilkan pengalaman, pengetahuan, dan pembelajaran.
Sementara itu, potensi yang tidak pernah memperoleh ruang untuk berkembang mungkin tidak pernah meninggalkan jejak apa pun.
Kita tidak tahu siapa mereka. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya bisa mereka ciptakan. Bahkan mungkin mereka sendiri tidak pernah mengetahui kemampuan yang dimilikinya.
Dan bagi saya, itulah salah satu bentuk kehilangan yang paling sulit dibicarakan.
Sebuah bangsa bisa kehilangan peluang inovasi bukan hanya karena kekurangan ilmuwan atau insinyur yang hebat, tetapi juga karena terlalu banyak anak muda tidak pernah memperoleh kesempatan untuk menjadi ilmuwan atau insinyur.
Mochammad Asri, Pemuda asal Aceh yang bekerja di NVIDIA USA
Mungkin kita terlalu sibuk menghitung orang-orang yang berhasil, sampai lupa memikirkan orang-orang yang tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mencoba.
Berapa banyak gagasan yang tidak pernah menjadi produk, berapa banyak riset yang tidak pernah dimulai, dan berapa banyak bisnis yang tidak pernah lahir karena seseorang harus lebih dahulu memastikan bahwa keluarganya bisa bertahan hidup?
Kita tidak memiliki jawaban pasti.
Tetapi ketidakmampuan mengukurnya bukan alasan untuk mengabaikan persoalan tersebut.
AI Membuka Pintu, Tetapi Kita Harus Memastikan Semua Orang Bisa Mendekatinya
Saya melihat perkembangan kecerdasan buatan sebagai salah satu perubahan penting yang berpotensi memperluas kesempatan belajar.
Hari ini, seseorang dapat menggunakan AI untuk memahami konsep pemrograman, berdiskusi tentang ide aplikasi, mencari kesalahan dalam kode, mempelajari konsep elektronika, atau merancang tahapan sebuah proyek.
Bagi seseorang yang memiliki akses terhadap perangkat dan internet, teknologi ini bisa menjadi pendamping belajar yang sangat berguna.
Saya sendiri merasakan bagaimana AI membantu saya mengeksplorasi bidang software development dan mencoba hal-hal baru.
Namun, ada satu hal yang perlu kita pahami: tersedianya teknologi tidak otomatis membuat semua orang memiliki kesempatan yang sama.
Seseorang yang memiliki laptop, internet stabil, waktu luang, dan fondasi pengetahuan yang memadai akan berada dalam posisi berbeda dibandingkan seseorang yang hanya memiliki ponsel sederhana, kuota terbatas, dan waktu belajar yang sangat sedikit karena harus bekerja.
AI dapat membantu seseorang belajar, tetapi AI tidak membayar biaya hidupnya. AI bisa menjelaskan cara membuat aplikasi, tetapi tidak otomatis menyediakan perangkat untuk menjalankannya. AI bisa membantu seseorang mengembangkan ide, tetapi tidak menjamin tersedianya mentor, pendanaan, atau kesempatan memasuki industri.
Karena itu, menurut saya, pembicaraan tentang masa depan pendidikan dan teknologi tidak boleh berhenti pada pertanyaan apakah AI tersedia.
Kita juga harus bertanya siapa yang dapat memanfaatkannya secara optimal.
Bagaimana jika sekolah vokasi memiliki laboratorium yang memadai? Bagaimana jika siswa yang tidak mampu membeli laptop mendapatkan akses perangkat? Bagaimana jika anak muda di daerah memiliki koneksi internet yang baik dan mentor yang membantu mereka menyelesaikan proyek nyata?
Bagaimana jika program pendidikan tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga memberi kesempatan untuk membuat sesuatu yang benar-benar berfungsi?
Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperluas kesempatan, bukan sekadar keuntungan tambahan bagi mereka yang sejak awal sudah memiliki akses terbaik.
Saya tidak berharap AI akan menyelesaikan seluruh persoalan ketimpangan. Itu terlalu berlebihan.
Tetapi saya percaya bahwa teknologi dapat membantu membuka lebih banyak pintu jika disertai kebijakan pendidikan, infrastruktur, dan dukungan sosial yang tepat.
Dan mungkin, di antara anak muda yang hari ini sedang bekerja untuk membantu keluarganya, ada seseorang yang kelak bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk membangun sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang.
Pertanyaannya bukan apakah mereka semua akan berhasil.
Pertanyaannya adalah apakah kita bersedia memberi mereka kesempatan untuk memulai.
Kita Tidak Harus Menunggu Mereka Menjadi Hebat untuk Memberi Kesempatan
Ada kecenderungan untuk memberikan perhatian lebih besar kepada orang-orang yang sudah menunjukkan prestasi.
Kita mencari siswa berprestasi, mahasiswa dengan nilai tinggi, calon pengusaha dengan ide yang menjanjikan, atau anak muda yang telah berhasil membangun sesuatu.
Itu wajar. Sumber daya terbatas, dan program pengembangan memang membutuhkan kriteria agar bantuan dapat diberikan secara bertanggung jawab.
Namun, jika seluruh kesempatan hanya diberikan kepada mereka yang sejak awal sudah memiliki prestasi paling terlihat, kita mungkin melewatkan orang-orang yang belum pernah memperoleh lingkungan yang memungkinkan kemampuannya muncul.
Karena itu, saya membayangkan sistem pengembangan potensi yang tidak hanya mencari mereka yang sudah unggul, tetapi juga memberi kesempatan untuk menemukan keunggulan yang belum terlihat.
Di sekolah, misalnya, siswa bisa diberi kesempatan mencoba berbagai bidang melalui proyek, eksperimen, kegiatan praktik, dan kolaborasi. Penilaian tidak hanya bergantung pada nilai ujian, tetapi juga memperhatikan perkembangan, kreativitas, ketekunan, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Anak-anak yang menunjukkan minat dapat memperoleh pendampingan lebih lanjut. Mereka yang menghadapi keterbatasan ekonomi bisa mendapatkan bantuan perangkat, biaya pendidikan, atau dukungan lain yang sesuai dengan kebutuhannya.
Kesempatan juga perlu tersedia bagi mereka yang terlambat menemukan minatnya.
Tidak semua orang mengetahui cita-citanya pada usia 15 tahun. Tidak semua orang memiliki prestasi akademik yang langsung terlihat. Ada yang baru menemukan bidang yang disukainya ketika berusia 20, 25, bahkan lebih tua.
Kita seharusnya tidak membangun sistem yang membuat seseorang merasa terlambat hanya karena perjalanan hidupnya berbeda.
Saya ingin membayangkan Indonesia yang memberikan kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya bagi orang-orang yang ingin belajar dan berkembang.
Bukan berarti semua orang harus terus-menerus dibiayai tanpa pertimbangan. Dukungan tetap perlu dirancang dengan baik dan dievaluasi.
Namun, kita perlu memastikan bahwa kegagalan awal, keterbatasan ekonomi, atau keputusan bekerja lebih dahulu tidak otomatis menutup pintu untuk masa depan yang lebih baik.
Kita tidak perlu mengetahui sejak awal siapa yang akan menjadi orang hebat. Kita hanya perlu membangun lingkungan yang memungkinkan lebih banyak orang menemukan apa yang mampu mereka lakukan.
Masa Depan Bangsa Tidak Seharusnya Hanya Ditentukan oleh Tempat Seseorang Dilahirkan
Saya sering membayangkan bagaimana jika setiap anak muda Indonesia memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan dirinya.
Bagaimana jika seorang anak dari keluarga sederhana bisa belajar teknologi tanpa harus merasa bahwa bidang tersebut hanya milik mereka yang mampu membeli perangkat mahal?
Bagaimana jika siswa SMK bisa membangun proyek teknologi yang setara secara kualitas dengan proyek siswa dari sekolah yang lebih mapan, karena mereka mendapatkan fasilitas, pendampingan, dan kesempatan yang memadai?
Siswa SMK belajar one by one mentoring dengan guru Coding
Bagaimana jika seseorang yang tidak memiliki koneksi profesional tetap bisa memperoleh kesempatan kerja berdasarkan kemampuan yang dapat dibuktikan?
Bagaimana jika seorang anak muda yang harus bekerja untuk membantu keluarga tetap memiliki jalur untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan keterampilannya?
Dan bagaimana jika orang-orang yang kelak memimpin institusi penting di negeri ini tumbuh dalam lingkungan yang menghargai kompetensi, integritas, pemikiran kritis, dan tanggung jawab sejak dini?
Saya tidak membayangkan sebuah masyarakat tanpa persaingan. Saya juga tidak membayangkan bahwa semua orang akan memiliki hasil kehidupan yang sama.
Perbedaan kemampuan, pilihan, minat, dan hasil akan selalu ada.
Yang saya bayangkan adalah masyarakat yang tidak membiarkan keadaan ekonomi keluarga menjadi penghalang yang terlalu besar bagi seseorang untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Saya ingin melihat lebih banyak anak muda memiliki kesempatan untuk memilih jalan hidupnya. Bukan karena semua jalan harus tersedia tanpa batas, melainkan karena mereka memiliki akses yang layak untuk mencoba, belajar, dan menentukan arah hidupnya sendiri.
Sebab masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang hari ini sudah berada di posisi strategis.
Masa depan juga dibentuk oleh anak-anak yang saat ini duduk di ruang kelas, oleh siswa SMK yang sedang menjalani praktik kerja lapangan, oleh mahasiswa yang mencoba menyelesaikan proyek pertamanya, dan oleh anak muda yang sedang bekerja keras membantu keluarganya.
Mereka semua adalah bagian dari masa depan itu.
Dan kita tidak pernah benar-benar tahu siapa di antara mereka yang kelak akan menemukan solusi bagi persoalan yang selama ini belum mampu kita selesaikan.
Pada Akhirnya, Saya Hanya Ingin Lebih Banyak Anak Muda Memiliki Pilihan
Saya kembali teringat pada dapur Mie Gacoan yang ramai itu.
Saya tidak tahu siapa nama orang-orang yang bekerja di sana. Saya tidak tahu latar belakang keluarga mereka, pendidikan yang pernah mereka tempuh, atau apa yang ingin mereka lakukan beberapa tahun mendatang.
Mungkin mereka menyukai pekerjaan mereka. Mungkin mereka sedang mengumpulkan uang untuk membangun usaha. Mungkin mereka sedang membantu orang tua. Mungkin ada pula yang menyimpan cita-cita lain yang belum sempat mereka kejar.
Saya tidak ingin mengasumsikan bahwa kehidupan mereka menyedihkan hanya karena mereka bekerja di dapur restoran. Pekerjaan yang dilakukan dengan baik memiliki martabat, dan setiap orang berhak menentukan sendiri apa arti kehidupan yang baik baginya.
Namun, saya berharap mereka memiliki pilihan.
Jika suatu hari mereka ingin menjadi pengusaha kuliner, semoga mereka memiliki akses untuk belajar bisnis dan mengembangkan usaha. Jika mereka ingin menjadi teknisi, semoga tersedia jalur pendidikan dan pelatihan yang berkualitas. Jika mereka ingin menjadi pengembang software, semoga mereka memperoleh kesempatan untuk mempelajari bidang itu. Jika mereka ingin melanjutkan kuliah, semoga kondisi ekonomi tidak menjadi satu-satunya hal yang menentukan apakah keinginan itu mungkin terwujud.
Saya juga berharap mereka tidak perlu merasa bersalah karena ingin mengejar sesuatu yang lebih besar, meskipun mereka memiliki tanggung jawab terhadap keluarga.
Dan saya berharap masyarakat tidak mengukur keberhasilan mereka hanya berdasarkan seberapa cepat mereka menghasilkan uang atau seberapa tinggi posisi yang berhasil mereka capai.
Bagi saya, kehidupan yang baik bukan semata-mata tentang menjadi kaya, terkenal, atau menduduki jabatan penting.
Kehidupan yang baik juga berarti memiliki kesempatan untuk belajar, bertumbuh, membuat pilihan, dan menggunakan kemampuan yang kita miliki untuk sesuatu yang bermakna.
Saya bersyukur atas perjalanan hidup saya sendiri. Saya bersyukur kepada orang tua saya, yang telah berjuang dengan segala keterbatasan mereka. Saya bersyukur karena hari ini masih memiliki kesempatan untuk belajar hal-hal baru, termasuk teknologi yang dahulu mungkin terasa jauh dari jangkauan saya.
Tetapi rasa syukur itu tidak membuat saya ingin berhenti memikirkan mereka yang menghadapi keterbatasan serupa.
Justru sebaliknya.
Saya ingin kesempatan yang saya miliki hari ini juga bisa tersedia bagi lebih banyak anak muda. Saya ingin mereka memiliki ruang untuk menemukan potensi yang mungkin selama ini belum pernah mereka sadari. Saya ingin mereka dapat belajar tanpa harus selalu memilih antara mengembangkan diri dan memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.
Saya tidak berharap semua anak muda Indonesia menjadi ilmuwan, insinyur, pendiri startup, atau pemimpin bangsa.
Saya hanya berharap bahwa jika di antara mereka ada seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa, keadaan ekonomi tidak langsung mematikan kesempatan itu sebelum ia sempat mencoba.
Sebab saya percaya, tugas sebuah bangsa bukan hanya memastikan rakyatnya mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hari ini.
Bangsa yang ingin maju juga harus memikirkan bagaimana rakyatnya dapat berkembang untuk menciptakan masa depan.
Dan mungkin, ketika kita melihat anak muda yang sedang memasak mi, membungkus pesanan, membersihkan meja, atau bekerja di pabrik, kita perlu mengingat satu hal.
Kita sedang melihat seseorang yang hari ini menjalankan pekerjaannya. Kita tidak tahu seluruh kemampuan yang dimilikinya, apa yang pernah ia impikan, atau apa yang mungkin bisa ia ciptakan jika memperoleh kesempatan yang berbeda.
Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa apa yang kita lihat hari ini adalah batas kemampuannya.
Bisa jadi, itu hanyalah bagian dari hidupnya yang sedang ia jalani sekarang.
Saya tidak ingin generasi berikutnya harus menjadi luar biasa hanya untuk bisa keluar dari keterbatasan hidupnya. Saya ingin mereka memiliki kesempatan untuk menjadi luar biasa karena mereka diberi ruang untuk mengembangkan potensinya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang terus tinggal di kepala saya bukanlah berapa banyak anak muda yang berhasil menjadi hebat.
Pertanyaan saya jauh lebih sederhana.
Berapa banyak anak muda yang sebenarnya mampu melangkah lebih jauh, tetapi tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk melakukannya?
Dan sebagai sebuah bangsa, apa yang bisa kita lakukan agar jumlah mereka semakin sedikit?
Mungkin kita tidak akan pernah mengetahui seluruh jawaban dari pertanyaan itu.
Namun, kita bisa mulai dengan memastikan bahwa lebih banyak anak muda memiliki akses terhadap pendidikan yang layak, kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, ruang untuk bereksperimen, dan dukungan untuk membangun kehidupan yang mereka inginkan.
Bukan agar semuanya menjadi orang hebat menurut ukuran kita.
Melainkan agar mereka memiliki kesempatan yang lebih adil untuk menentukan sendiri akan menjadi siapa mereka kelak.
Sebab masa depan Indonesia tidak hanya bergantung pada apa yang mampu dilakukan oleh generasi mudanya hari ini.
Masa depan Indonesia juga bergantung pada kesempatan apa yang bersedia kita berikan kepada mereka.