Coding Setelah Vibe Coding: Apakah Anak Muda Masih Perlu Belajar Ngoding?
Di tengah maraknya vibe coding dan AI coding agents, saya melihat mengapa coding tetap penting bagi generasi muda—bukan untuk menghafal syntax, tetapi untuk belajar berpikir dan membangun.
Koleksi Pribadi
Maybe the future of coding isn't about typing code. Maybe it's about understanding what code means.
Saya Melihat Sesuatu yang Menarik di Sebuah Kelas
Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah pemandangan yang menurut saya cukup menarik.
Seorang guru muda sedang mengajarkan coding kepada murid-muridnya.
Yang membuat saya tersenyum adalah jarak usia mereka.
Tidak terlalu jauh.
Mungkin hanya sekitar enam tahun.
Di satu sisi ada seorang guru yang sedang mencoba menjelaskan bagaimana komputer bekerja. Di sisi lain ada murid yang tumbuh di dunia ketika AI sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dan dari situ saya mulai berpikir:
Apakah anak-anak ini masih perlu belajar coding?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana.
Tetapi menurut saya, di tahun 2026, jawabannya sudah tidak sesederhana dulu.
Karena sekarang kita punya sesuatu yang beberapa tahun lalu belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari:
AI yang bisa menulis kode.
Kita punya AI coding assistant.
Kita punya AI agent.
Dan sekarang ada istilah yang semakin sering saya dengar:
💬 Komentar & Diskusi
vibe coding.
Dulu Kita Belajar Coding untuk Membuat Komputer Mengerti Kita
Ketika saya belajar coding, prosesnya terasa cukup jelas.
Saya harus belajar syntax.
Saya harus memahami variable.
Conditional.
Loop.
Function.
Database.
API.
Framework.
Dan banyak hal lain yang terkadang membuat kepala cukup panas.
Kalau saya ingin membuat sebuah aplikasi, saya harus menulis instruksi kepada komputer dengan bahasa yang sangat spesifik.
Satu karakter salah saja bisa membuat program gagal berjalan.
Tetapi sekarang situasinya berubah.
Saya bisa mengatakan kepada AI:
“Buatkan saya website portfolio dengan dark mode, animasi sederhana, halaman project, dan contact form.”
Kemudian AI bisa menghasilkan sebagian besar kode yang diperlukan.
Ini luar biasa.
Dan menurut saya, vibe coding adalah salah satu bentuk paling nyata dari AI sebagai leverage manusia.
Barrier untuk membuat software turun sangat jauh.
Orang yang sebelumnya tidak bisa membuat aplikasi kini bisa menghasilkan prototype.
Orang yang punya ide bisnis tetapi tidak punya kemampuan programming mendalam bisa mulai membuat produknya sendiri.
Bahkan perkembangan komunitas developer di berbagai tempat mulai dipengaruhi oleh akses yang lebih mudah terhadap AI coding tools.
Jadi... Apakah Coding Akan Mati?
Saya rasa tidak.
Justru sebaliknya.
Saya mulai berpikir bahwa coding mungkin akan menjadi lebih penting, tetapi bentuk pentingnya berubah.
Dulu pertanyaannya:
“Bisakah kamu menulis kode?”
Sekarang pertanyaannya mulai bergeser menjadi:
“Bisakah kamu memahami apa yang sedang kamu bangun?”
Ini perbedaan yang sangat besar.
AI Bisa Menulis Kode. Tapi Siapa yang Tahu Kode Itu Benar?
Saya bisa meminta AI membuat sebuah aplikasi.
Dalam beberapa menit, sesuatu mungkin sudah terlihat berjalan.
Tombolnya ada.
Halaman web-nya ada.
Database-nya mungkin sudah terhubung.
Animasi berjalan.
Secara visual semuanya terlihat keren.
Tetapi ada satu pertanyaan yang menurut saya tidak bisa kita abaikan:
Apakah aplikasi tersebut benar-benar baik?
Apakah datanya aman?
Apakah autentikasinya benar?
Apakah ada bug?
Apakah database-nya dirancang dengan baik?
Apakah aplikasinya bisa berkembang ketika penggunanya bertambah?
Apakah ada security vulnerability?
Apakah AI membuat keputusan arsitektur yang tepat?
Dan yang paling sederhana:
Apakah kita sendiri tahu apa yang sebenarnya dibuat oleh AI?
Menurut saya, inilah alasan kenapa coding masih penting.
Bukan supaya setiap orang menjadi software engineer.
Tetapi supaya manusia tidak menjadi pengguna pasif dari software yang dibuat oleh mesin.
Saya Justru Melihat Coding Sebagai Cara Belajar Berpikir
Bagi saya, manfaat terbesar belajar coding bukan syntax.
Syntax bisa dicari.
Bahkan sekarang bisa ditanyakan kepada AI.
Yang jauh lebih penting adalah computational thinking.
Bagaimana memecah masalah besar menjadi masalah kecil.
Bagaimana membuat sebuah proses menjadi sistematis.
Bagaimana memahami hubungan sebab-akibat.
Bagaimana mencari sumber kesalahan.
Bagaimana membuat sesuatu yang kompleks menjadi lebih sederhana.
Dan menurut saya, kemampuan seperti ini tidak menjadi kurang penting hanya karena AI semakin pintar.
Justru semakin penting.
Karena semakin pintar alat yang kita gunakan, semakin besar pula kemungkinan kita bisa menghasilkan sesuatu yang besar—baik maupun buruk.
Vibe Coding Mengubah Posisi Programmer
Saya juga tidak melihat vibe coding sebagai musuh programmer.
Saya melihatnya sebagai evolusi alat.
Dulu programmer menulis sebagian besar kode secara manual.
Kemudian muncul IDE.
Autocomplete.
Library.
Framework.
Stack Overflow.
GitHub.
Copilot.
Sekarang kita memiliki agent yang bisa membuat perubahan pada banyak file sekaligus.
Perubahannya bukan:
human → code
saja.
Tetapi mulai menjadi:
human → intent → AI → code → human verification
Dan saya rasa ke depan proses tersebut akan semakin jauh.
Manusia mungkin semakin jarang mengetik kode secara manual.
Tetapi manusia masih harus menentukan:
apa yang harus dibuat, kenapa dibuat, bagaimana seharusnya bekerja, dan apakah hasilnya benar.
Coding Mungkin Akan Menjadi Seperti Matematika
Saya suka membayangkan analoginya seperti ini.
Tidak semua orang yang belajar matematika akan menjadi matematikawan.
Tidak semua orang yang belajar fisika akan menjadi fisikawan.
Begitu juga:
tidak semua orang yang belajar coding harus menjadi programmer.
Tetapi belajar matematika membantu kita memahami dunia yang menggunakan angka.
Belajar coding membantu kita memahami dunia yang semakin banyak dijalankan oleh software.
Dan dunia tersebut sedang berkembang sangat cepat.
Smartphone kita adalah software.
Banking adalah software.
Sekolah semakin banyak menggunakan software.
Transportasi menggunakan software.
Bisnis menggunakan software.
AI sendiri adalah software yang sangat kompleks.
Kalau generasi muda tidak memahami bagaimana software bekerja, mereka berisiko hidup di dalam sistem yang semakin kompleks tanpa benar-benar memahami sistem tersebut.
Lima Tahun Lagi, Saya Justru Tidak Takut Anak Muda “Tidak Bisa Coding”
Saya lebih takut kalau mereka tidak bisa berpikir secara komputasional.
Karena mungkin lima tahun lagi AI sudah jauh lebih hebat.
Mungkin kita tidak lagi menulis:
function calculateSomething() {
...
}
secara manual sesering sekarang.
Mungkin kita hanya menjelaskan apa yang kita inginkan.
AI membangun sistemnya.
AI menguji.
AI memperbaiki.
AI melakukan deployment.
Dan manusia tinggal melakukan review.
Kalau itu terjadi, kemampuan mengetik syntax memang menjadi semakin tidak penting.
Tetapi kemampuan memahami logic di balik syntax justru semakin penting.
Dari “Belajar Coding” Menjadi “Belajar Membangun”
Ini mungkin perubahan terbesar yang saya bayangkan.
Saya tidak ingin anak-anak belajar coding hanya karena:
“Coding itu masa depan.”
Kalimat itu sudah terlalu generik.
Saya lebih suka mengatakan:
Belajar coding adalah salah satu cara untuk belajar bagaimana sebuah ide berubah menjadi sesuatu yang bisa bekerja.
Ada ide.
Kemudian kita pecah.
Kita desain.
Kita bangun.
Kita uji.
Kita menemukan kesalahan.
Kita perbaiki.
Kemudian kita mencoba lagi.
Dan sekarang AI bisa menjadi partner dalam seluruh proses tersebut.
Jadi AI tidak harus menjadi alasan untuk berhenti belajar coding.
AI bisa menjadi alasan untuk belajar coding dengan cara yang berbeda.
Guru Coding Mungkin Tidak Lagi Mengajarkan Syntax
Dan ini membuat saya teringat lagi pada foto guru muda tadi.
Saya justru membayangkan bahwa guru coding lima tahun dari sekarang mungkin tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengajarkan syntax.
Mungkin pelajarannya lebih banyak berisi:
“Coba jelaskan apa yang ingin kamu bangun.”
“Kenapa kamu memilih database ini?”
“Apa yang terjadi kalau user memasukkan data yang salah?”
“Kenapa AI membuat struktur seperti ini?”
“Coba cari security problem-nya.”
“Bagaimana kamu tahu hasil AI ini benar?”
Dengan kata lain:
guru tidak lagi hanya mengajarkan bagaimana menulis kode.
Guru mengajarkan bagaimana berpikir ketika membangun software bersama AI.
Dan menurut saya, itu jauh lebih menarik.
AI Membuat Coding Lebih Demokratis
Saya melihat ini sebagai salah satu dampak positif terbesar.
Dulu, membuat software membutuhkan barrier yang cukup tinggi.
Sekarang barrier tersebut turun.
Seorang siswa bisa memiliki ide.
Kemudian ia bisa meminta AI membantu membuat prototype.
Ia bisa melihat hasilnya.
Kemudian membongkar bagaimana sistem tersebut bekerja.
Lalu bertanya lagi.
Belajar lagi.
Memperbaiki lagi.
Dalam survei Stack Overflow 2025, 44% developer menggunakan AI tools untuk belajar coding, sementara 69% mengatakan mereka mempelajari teknik coding atau bahasa pemrograman baru dalam setahun terakhir.
Menurut saya, ini menunjukkan sesuatu yang menarik:
AI bukan hanya alat untuk membuat software.
AI juga mulai menjadi alat untuk belajar membuat software.
Tapi Saya Tidak Ingin Anak-Anak Hanya Menjadi “Prompt Engineer”
Ini bagian yang menurut saya penting.
Saya tidak ingin pendidikan coding berubah menjadi:
“Ketik prompt → copy code → selesai.”
Karena kalau begitu, kita hanya memindahkan ketergantungan dari programmer ke AI.
Dan ketika AI menghasilkan kesalahan, kita tidak tahu harus berbuat apa.
Bahkan data Stack Overflow menunjukkan bahwa meskipun penggunaan AI sangat tinggi, 46% developer tidak percaya pada akurasi output AI, dan masalah terbesar yang mereka laporkan adalah output yang “hampir benar tetapi belum benar”; 45% juga mengatakan debugging kode buatan AI bisa memakan lebih banyak waktu.
Bagi saya, angka itu sangat masuk akal.
AI sangat bagus untuk membantu kita bergerak cepat.
Tetapi manusia tetap harus tahu kapan harus menginjak rem.
Jadi, Seberapa Penting Coding untuk Generasi Muda?
Kalau saya harus menjawab dalam satu kalimat:
Sangat penting untuk dipelajari, tetapi tidak harus dipelajari dengan tujuan semua orang menjadi programmer.
Saya ingin generasi muda memahami setidaknya:
Bagaimana software bekerja.
Bagaimana komputer memproses instruksi.
Bagaimana data bergerak.
Bagaimana sebuah aplikasi dibangun.
Bagaimana menemukan kesalahan.
Bagaimana AI menghasilkan kode.
Dan yang paling penting:
Bagaimana mempertanyakan hasil yang diberikan AI.
Karena lima tahun dari sekarang, saya menduga kemampuan membuat sesuatu dengan bantuan AI akan menjadi semakin mudah.
Yang semakin langka justru mungkin:
kemampuan mengetahui apa yang layak dibuat.
AI Explorer's Thought
Ketika saya melihat seorang guru muda mengajarkan coding kepada murid yang usianya tidak terpaut jauh darinya, saya tidak melihat sesuatu yang kuno.
Saya justru melihat sebuah transisi.
Generasi sebelumnya belajar bagaimana menulis kode.
Generasi sekarang mungkin akan belajar bagaimana membangun dengan kode.
Dan generasi berikutnya mungkin belajar bagaimana mengarahkan mesin untuk membangun software bagi mereka.
Tetapi di semua tahap tersebut, ada satu kemampuan yang tetap saya rasa penting:
understanding.
Karena saya percaya, semakin pintar mesin yang kita gunakan, semakin penting bagi manusia untuk memahami apa yang sedang dilakukan mesin tersebut.
Mungkin suatu hari nanti kita tidak lagi banyak mengetik kode.
Mungkin AI akan melakukan sebagian besar pekerjaan teknisnya.
Tetapi saya berharap anak-anak tetap belajar coding.
Bukan karena mereka harus menjadi programmer.
Tetapi karena saya ingin mereka tetap menjadi orang yang memegang kendali atas apa yang mereka bangun.
Dan mungkin, itulah arti belajar coding di era AI.
Bukan belajar berbicara kepada komputer.
Tetapi belajar bagaimana berpikir bersama komputer.
** “Mungkin suatu hari nanti kita tidak lagi banyak mengetik kode. Tetapi saya ingin generasi muda tetap belajar coding—bukan untuk menjadi programmer, melainkan untuk tetap menjadi orang yang memegang kendali atas apa yang mereka bangun.” **